Tanah Rata, Banda Neira — Suasana Negeri Tanah Rata, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, terasa begitu istimewa pada hari ketiga Idul Ftri 1446 H, Selasa, 2 April 2025. Di tengah momen lebaran yang hangat, masyarakat setempat menggelar Pagelaran Seni Budaya Tanah Rata 2025 sebagai wujud syukur, pelestarian budaya, dan ajang silaturahmi bersama.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Camat Banda, Ibu Handayani Hasanussi. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa pagelaran ini bukan hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kekayaan tradisi serta mempromosikan potensi wisata budaya di Banda Neira. “Kegiatan seperti ini bukan hanya hiburan, tapi bisa menjadi bagian penting dalam upaya menjaga tradisi dan budaya kita. Ini juga potensi besar dalam mendukung promosi wisata Banda Neira secara keseluruhan,” ujar Ibu Handayani.
Sebelum rangkaian pertunjukan dimulai, seluruh tamu dan penonton terlebih dahulu dipersilakan menikmati hidangan dalam tradisi Makan Patita. Meja-meja panjang dipenuhi aneka sajian khas daerah, mulai dari ketupat, suami, keladidan singkong rebus, ikan bakar, cumi, gurita, uli hingga sambal colo-colo. Suasana terasa akrab dan penuh kebersamaan, di mana tidak ada sekat antara warga, panitia, dan para undangan.
“Beta rasa bangga skali bisa liat anak-anak dan pemuda tampil bawa budaya sendiri. Ini bukan hal yang biasa, apalagi pas lebaran begini, semua orang kumpul dan saling sapa,” ungkap Nona Ain, warga yang ikut menyiapkan hidangan sejak pagi.
Setelah makan bersama, pertunjukan seni pun dimulai. Berbagai tarian tradisional khas lokal tampil memukau—Tari Pajoge yang anggun, Makanjara yang dinamis, atraksi silat yang penuh semangat yang diiringi tabuhan gendang dan pukulan gong serta suara musik yang mengiringi tarian kreasi dari anak-anak muda yang membuktikan bahwa budaya tak pernah kehilangan tempat di hati generasi baru.
Kepala Pemerintah Negeri Tanah Rata, Fitra La Djaharia menyebut kegiatan ini sebagai bentuk cinta dan tanggung jawab masyarakat terhadap warisan budaya. “Pagelaran ini bukan cuma soal tari dan musik. Ini tentang merawat identitas, menjaga tradisi dan melestarikan budaya serta memperkuat silaturahmi saat lebaran, dan memperkenalkan wajah Tanah Rata kepada dunia luar,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan dalam suksesnya kegiatan ini. “Saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada panitia, seluruh masyarakat Tanah Rata, serta semua pihak yang telah mendukung hingga acara ini bisa terlaksana dengan baik dan lancar,” tambahnya.
Salah satu tamu dari luar Banda, Amin, juga mengaku terkesan dengan nuansa kekeluargaan dalam acara ini. “Beta baru pertama kali datang, tapi langsung merasa seperti keluarga. Budaya di sini luar biasa hidup,” katanya.
Lebih dari sekadar tontonan, Pagelaran Seni Budaya Tanah Rata 2025 menjadi ruang merayakan tradisi, mempererat hubungan sosial, dan mengukuhkan posisi Tanah Rata sebagai desa yang kaya akan nilai budaya serta layak diperhitungkan dalam peta wisata budaya di Maluku.